MADU HUTAN Tessonilo Bersertifikasi WWF, TERJAMIN

Pengembangan Madu Hutan di Provinsi Riau sebagai upaya perbaikan lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat memiliki kaitan erat dengan peningkatan ketersediaan pakan lebah. sehingga kegiatan menanam berbagai jenis tanaman kususnya yang menjadi sumber pakan lebah menjadi bagian penting untuk mewujudkan kondisi dan harapan tersebut.

 

Indonesia pernah menjadi andalan dunia karena hutannya yang terjaga. namun saat ini tekanan hebat terhadap hutan kita telah membuat banyak membuat pepohonan kita berkurang, akibatnya banjir, keringnya sumber-sumber mata air, hingga iklim di lingkungan kita yang tidak lagi nyaman untuk kehidupan.

Continue Reading →

APMTN : Penelitian Trigona dengan Akademisi UNRI

madu hutan

Pekanbaru (16/04/2014) Lebah trigona merupakan lebah anggota family Meliponidae. Secara anatomi, ukuran lebah Trigona lebih kecil dibanding jenis lebah lainnya. Bahkan , dibanding dengan lalat sekalipun. Secara alamiah, Trigona merupakan lebah berukuran mini dan tidak dilengkapi sengat. Sebagai bentuk pertahanan diri beserta koloninya, Trigona memiliki kemampuan memproduksi propolis. Propolis ini akan melindunginya dari ancaman predator dan hama lainnya. Jika Apis mellifera atau Apis lainnya disebut lebah madu. Maka,Trigona dikenal sebagai lebah propolis.

Continue Reading →

Workshop Madu Hutan Nusantara : Ajang Sharing Para Pengiat Madu Hutan Indonesia

Pekanbaru (16/04/2014) APMTN dan kelompok petani madu ditingkat nasional mengikuti Workshop Madu hutan Nusantara dan tantangan berkelanjutan atas kerja sama  Dirjen Perhutani Kemenhut, WWF Riau, BLH Riau,JMHI, dan AOI. Hutan kepungan sebagai tempat habitat alami Lebah Apis Dorsata mulai berkurang.Workshop madu hutan nusantara mendiskusikan tantangan petani kedepan terhadap hancurnya habitat madu hutan. Pemerintah pusat harus mengambil kebijakan serius terhadap degradasi hutan akibat alih fungsi lahan. Aktivitas tersebut berdampak besar terhadap turunnya produksi madu hutan di Indonesia.

Continue Reading →

APMTN Mengikuti PAMOR Riau

Pekanbaru (16/04/2014), Geliat perkembangan konsumen produk pertanian di Indonesia mulai memperhatikan aspek ke-organikan produk” ujar Rasdi Wangsa, Direktur Program Aliansi Organik Indonesia,beberapa waktu lalu usai mengisi ToT PAMOR Riau. Dalam rangka mendorong percepatan sertifikasi mutu organic kelompok petani madu hutan Tesso Nilo ,APMTN berpartisipasi dalam Pelatihan Sistem Penjamin Mutu Organik (PAMOR) Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan kerjasama antara WWF Indonesia Riau Conservation Program dan Aliansi Organik Indonesia.

Continue Reading →

Lebah Hutan Apis Dorsata

Species lebah penghasil madu ini hidup di kawasan hutan sub-tropis dan tropis Asia seperti Indonesia, Philipina, India, Nepal. Khusus di Indonesia, spesies ini hidup di hutan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi , Irian , NTB dan NTT.

Lebah Apis Dorsata memiliki banyak nama sebutan lokal. Di Kalimantan Barat – danau Sentarum di sebut Manye/Muanyi  , di Jawa Tawon Gong , di Sunda tawon odeng, Di daerah Sumatera Barat di panggil labah gadang, labah gantuang, labah kabau, labah jawi, di Tapanuli disebut harinuan, sedang dalam bahasa Inggris disebut giant honey bee. Continue Reading →

Beda Madu Hutan dan Ternak

1.Jenis lebahnya

Madu hutan berasal dari jenis Apis Dorsata sedangan madu ternak dari jenis Apis Cerana atau Apis Melifera. Otomatis akan memiliki perbedaan dari segi jenis sarang, jenis nectar dan akan mempengaruhi perbedaan rasa dan warna madu yang dihasilkan.

2.Cara perlakuannya

Madu hutan merupakan jenis lebah liar/wild honey yang tidak bisa ditangkarkan sedangkan madu ternak bisa ditangkarkan.

  1. Kadar air

Kadar air standar madu hutan JMHI yang  dipanen sekitar 24% sedangkan kadar air madu (ternak) SNI 21%. Madu hutan lebih encer, disebabkan karena sarang madu hutan berada diluar sehingga terkena hujan dan iklim yang lembab sehingga mempegaruhi kadar air.

 

Continue Reading →